Senin, 28 Maret 2011

Minggu, 27 Maret 2011

kau tak ku kenal, namun ku hapal

Aliran deras ini terbentang jauh ke ujung pandangan
Tak terlihat tepiannya sejauh mata memandang
Sampai-sampai pertemuannya dengan langit pun menjadi pembatas
Meresapi angin disetiap rambutku
Debur ombak yang berseru
Aku termangu, dalam lamunan bisu
Seperti saat aku membayangkan dirimu
Seseorang yang memang benar-benar aku belum tahu
Nama, rumahmu, serta dirimu
Hanya senyum itu yang aku kenal
Menyeringai seperti bulan sabit
Sering membayangkan seperti apa gerangan kau, terlebih saat nanti kita bertemu
Mungkin...
Itu pun jika ada kehendak Tuhan
Sementara itu, angin meniup debu-debu pasir yang putih kecoklatan
Menggoyangkan daun-daun kelapa yang tinggi terjuntai
Asap ini tebal sekali
Memaksa paru-paru menerima nikotin lebih dalam
Biarkan sajalah, nanti juga hilang sifatnya
Merusak memang, tapi apa daya, terlalu manis untuk ditinggalkan
Lamunan itu kembali hadir, dibawah terang bintang yang bertebaran
Entah awan pergi kemana, sehingga dengan asik mereka menari dengan bebasnya
Malam ini terlalu indah, untuk dilewatkan sendiri
Tapi apa daya hati ini sedang tak berseri
Menyambut luka yang tak terperi
Aku berdiri, pandangi deburan air yang bergulung di kejauhan
Lamunan ini bukan sesaat, aku tahu jika terus-terusan aku bisa mati cepat
Gila lalu tertabrak bus malam yang lewat
Aku biar kan sajalah
Saat ini hanya itu yang bisa kulakukan
Agar tak lupa denganmu
Orang yang berbicara sesaat dan memberi satu senyuman
Lalu pergi dan membiarkan hati ini berjauhan

Sabtu, 26 Maret 2011

Tanpa Tepi

Gula-gula itu bertaburan rapi diatas selembar roti
Masih hangat susu di gelas ini
Angin semilir berhembus melalui celah rambut di dahi
Bulu kudukku sekejap berdiri
Kuminum sedikit demi sedikit susu putih itu hingga habis isi
Aku tertegun akan gemintang yang terbang tinggi
Begitu bersinar memanjakan mata ini
Ah udara menjadi dingin sekali
Lebih baik aku tidur lagi

Minggu, 20 Maret 2011

Waktu Memberi Arti

Orang-orang datang ke Jakarta
Adu nasib katanya
Kalian pikir nasib itu apa?
Chip judi?
Yang jika dipertaruhkan bisa menang sekian kali lebih dari yang kalian miliki?
Nasib itu impian jika belum terlalui, namun ya sudahlah jika sudah dialami
Waktu yang menentukan filosofi
Akan nasib itu sendiri

Jumat, 18 Maret 2011

Malam turun begitu larut
Pikiran ini semakin semerawut
Didesak deadline yang sangat keriput
Aku takut luput
Dari Kebahagiaan yang datang memagut
Setiap bunga tidur yang lembut

Setiap jengkal tubuh ini tambah kusut
Otot-otot Ku makin bergelut

Aku butuh tukang urut
Dan sepertinya memang harus solat tahajud

Selasa, 15 Maret 2011

dunia maya itu kejam nian

teramat penuh dengan penipuan

hati-hati dengan muslihat kepalsuan

paras cantik seorang perempuan

AkuaK

kau berbisik
kau pun mendengar sendiri
kau berpikir
kau pun melakukannya sendiri
kau ini egois
maunya menang sendiri
kau itu aku
tapi aku bukan kau
lantas kau siapa?
lalu aku siapa?
kita itu apa?


MANUSIA
Kedua tangan kami bersentuhan


Hampir mati rasanya