Kamis, 21 April 2011

Terhanyut ombak keresahan, aku terombang-ambing alasan
Berlayar hanya dengan sampan, tak ada layar terkembang
Ikan-ikan berenang perlahan, menatap sebentar lalu pergi, harapan palsu
Bulan begitu benderang, tapi kenapa badai ini terus meradang?
Haruskah aku hanya berenang? Agar terhanyut ke sebuah tepian tanpa paksaan
Hanya air mengalir deras membawaku tanpa satupun kecemasan
Hanya mimpi-mimpi khayalan kuning keemasan
Kabut pun turun memeluk udara gelap
Dingin dan senyap, aku terlelap
Lalu bersandar entah dimana
Aku harus berlayar lagi, entah untuk apa

Mungkin untuknya
Berhenti berterbangan, kau membutuhkan sarang
Untuk berdiam dan berteduh, dari jiwa jiwa yang runtuh menimpa jiwa keemasan
Juga induk untuk anak-anakmu, yang nanti terlahir dan berterbangan pula, sama sepertimu
Untuk memadu kasih dan sayang serta hasrat berkesinambungan antara setiap mimpi dan angan-angan
Kau telah lelah, istirahatlah dan merebah, bukan hanya sekedar singgah
langit malam begitu diam senyap, dan udara dingin serta embun menyekat
Kebebasan bintang dan emosi berlaluan
kau bukan komet, yang bersinar dan setiap waktu berputar
Berpendar di setiap garis-garis makna dan aksara
Kau masih terbelenggu khayalmu, semu, dan biru kelabu
Berlarilah, tapi nanti saat kau punya sebuah sisi
Yang siap menunggu dan mengayomi, mungkin melampiaskan duniawi, entah cinta atau narasi
Kau masih berdegup, keras dalam ucap tergugup
Mati dalam pikiran absurdmu kusut
Melangkahlah, tapi perlahan, agar tak mati berakar, dan terbakar
Kau bukan aljabar, perhitungan pasti yang masuk di nalar
Kau bukan kemistri, yang tidak percaya mati suri
Saat mau berdiri dan kemudian jatuh lagi
Masih belum pagi, tidurlah dulu, dan bergelut dengan mimpi
Untuk mengobati setiap isi kelambu inspirasi
Istirahatlah, rebahkan tubuh, tapi jangan tangisi
Dia yang tak punya mimpi tentang kami lagi
Istirahatlah, dalam buta pagi yang runtuh dimakan bumi

Istirahatlah

Senin, 18 April 2011

Bukan maksud ingin merusak, hanya membuat luka terkuat
Bukan untuk dirimu, tapi semua buatku
Mungkin pilu, tapi kesukaanku, dalam kalbu
Pembiusan dalam jejak kebencian dan kerinduan, tentang materi alam sepadan
Definisi langkah terpendam yang teredam, lalu mati ditangan hitam
Aku abu-abu, rancu, dan perlahan kaku, lalu malu
Tidak mati, tapi melukai, dan membekas di guratan sayap fiksi, dalam kenyataan duniawi
Khayal terbentang dalam alunan rima, bersenandung diantara kabut duka dan api membara
Aku menggebu dan berlari memburu
Tiap jengkal hasrat yang patut diadu
Hey! Berbicaralah, jangan berbisik, teriaklah, jangan bungkam
Kau berani, tapi sekarang takut
Takut hilang dari garis edar orbit bahagia
Ya sudah aku duduk saja, menikmati alunan irama, dari setiap kata yang tersusun di mata
Aku bukan si penjaga, aku si pengharap dan terluka

aku si tak bernama, tak terdefinisi dalam aksara

dibawah kerudung jiwa, aku mati ditampar cahaya

terlalu benderang, terlalu meradang di dalam sarang

tidak seperti udara, tak terlihat, namun diketahui di senyawa

bertiup bebas di langit luas, lalu kandas

desir demi desir bersemayam di dalam lubuk

lubuk yang terbaca manis dalam tangis roh kebebasan

narasiku mengalun di tiap tarian pena hitam

dengan tinta tersurat di hati tersirat

embun mengendap di setiap jengkal bebatuan

dingin, tak berirama, diam, bernada

remuk redam kelambu malam

aku si sayap hitam yang selalu terbang

dengan sisa nafas sang penyair

yang melukis garis kehidupan tanpa akhir

berputar di setiap lingkaran pudar, tak bernalar dan kasar

aaaaaa!!!

hanya nafas terhembus, dimana suara?

hilang tertelan atau habis terbuang, atau sengaja dibuang?

aaaaa!!!

terlihat dalam alunan pena, mungkin tersurat dan telat.

kesadaran terikat, aksara gambarkanku, definisiku

narasiku, nafas, dan matiku

ini tidak benar, aku nanar, lebam dan memar

namun tetap tampan, karena aksara dalam tatanan

aku terkuak, aku meledak, aku ... mati

dan dihidupkan dalam aksara

dalam otak, ditranslasikan pena dan tuak, juga kertas perak akhirnya telak

jadi, aku ingin kau membacaku

dalam aksara hingga jutaan ribu

Aksara puluhan ribu,

itu AKU

Rabu, 13 April 2011

Sebuah perbincangan 70 km/jam

A: Kenapa?

B: Kau sumringah

A: Tentu saja, kau tidak?

B: Tidak begitu, aku tahu kau jatuh cinta, aku juga, tapi aku punya otak

A: Aku punya hati, lantas?

B: Kau terlalu mudah dibodohi

A: Lah terus kenapa? Setidaknya aku merasakan keindahan jatuh cinta, sedangkan kau terlalu munafik, perhitungan

B: Karena aku punya otak, kau itu sudah dikelabui paras cantiknya, kopi itu hitam, tapi kau tidak tahu rasanya

A: Karena itu aku tak ingin menebak, langsung cicip

B: Itu bodoh kau tahu? Membahayakan diri

A: Tapi aku suka, aku ini kan masih pencarian dan belum banyak pengalaman

B: Ya ya ya, bla bla bla, kau lemah, mudah luluh dan bodoh, dia hanya mempermainkanmu, semua kata-katanya palsu kau tahu?

A: Tidak, aku hanya menyayanginya, dan itu cukup membuatku percaya, meski agak ragu, karena kau berpikir

B: Betul, dan aku tak mau terjebak dalam kebohongan

A: Dan aku ingin menikmati kebahagiaan cinta

B: Terserah kau sajalah, aku masih tidak percaya

A: Tapi aku berharap

B: Aku bilang terserah kau, dia memang selalu merasuki ku, lalu baru kau

A: SALAH!!! Dia merasukiku dulu, baru kau

B: Dia aku pikirkan dulu, baru kau merasa suka

A: Dia aku sukai dan kagumi dulu, baru terpikir sama kamu

B: Kok malah rebutan?

A: Kau yang mulai

B: Intinya kita sama-sama munafik kan?

A: Kau yang munafik, aku jujur menyukainya, dan menyayanginya

B: Dan aku terus memikirkannya, meski aku sedikit ragu

A: Ya sudahlah, kita saling bantu, kau pikirkan, aku yang rasakan

B: Dan jangan sampai kita terluka

A: :)

B: :)

Ratap

Sayatan itu masih terasa nyeri, lukanya pun masih mengucur
Padahal sudah lama sekali belati-belati itu mengiris tiap jengkal nadiku
Desir darah ini masih berani mengalir dengan cepat diiringi detak jantung yang tak terarah
Aku menengadah, gemintang hilang terbang
Bulan tertutup awan, mungkin mendung dan mungkin akan hujan
Dingin semakin larut menyatu di tiap helai bulu kudukku yang lembut bertebaran
Aku terbayang sesosok wajah
Bidadari mungkin, namun orang biasa kurasa
Memang orang biasa yang berjalan dengan dua kaki dan melihat dengan dua mata
Namun tersenyum dengan seringai kebahagiaan malaikat
Jantung ini berdegup makin kencang saat menatap
Aku meratap, kau siapa? sudikah kau beritahu namamu?
Wajah itu menghilang perlahan, diiringi tetesan pedih sekelebat bayangnya
Aku diam, untuk yang keseribu, lagi-lagi hanya bayang-bayang yang kuterawang
Malang nian Pecinta ini, mengharap tapi tak tahu apa yang diharap
Terlintas lagi senyuman itu, dalam setiap seruput kopi ketika hujan turun
Tepat di kedua mataku, tertunduk, Aku menginginkannya Tuhan, sudikah kau berikanku dirinya?
Aku berjanji akan kujaga ia dengan mulia, tepat di hatiku
Tak ada jawab, aku merasa nyeri lagi, kali ini pada nadi yang keseratus sekian
Tuhan, sudikah kau membagi keindahannya untuk diriku? satu senyumnya pun cukup, tapi kau pasti tahu aku minta lebih
Tak ada jawab, mungkin memang tak pantas untuk dijawab, lagi-lagi nyeri
Tuhan, dia siapa? apa lebih tepatnya? malaikat? atau manusia? tolong beritahu aku, setidaknya aku paham siapa diriku
Pilu lagi, campur nyeri, nafas ini makin berat, namun kubiarkan begitu, asalkan jantungku tetap berdegup saat melihatnya
Mungkin akan terdengar olehnya, mungkin tidak, kali ini aku tak berima

Selasa, 05 April 2011

Kabut ini turun perlahan
Di sela-sela dinding putih yang berdiri mengambil peran
Membatasi tiap-tiap garis suara alam yang berkesinambungan
Menyerukan arti dan makna tentang semua tujuan
Dingin ini berselimut pekat
Otakku tumpul hitam berkarat
Mungkin nanti atau besok mati cepat
Terlalu banyak racun terserap yang membuatku menjadi keparat
Halusinasi menerawang akan aksara yang mungkin akan terucap
Dari bidadari bersayap hitam gelap
Hidup dari bayang-bayang tidurku yang lelap
Menyeruak ke setiap mimpiku yang biasanya berderap
Menuju entah kemana dan kapan akan bergerak lalu hilang senyap
Alunan mimpi ini begitu kuinginkan
Untuk hadir di kehidupan yang terlalu kaku dan penuh keheningan
Aku ingin bising dan terbakar dalam keramaian
Mimpi-mimpi yang selalu bersinar seperti mentari keemasan
Angin meniup setiap debu dan dingin hingga menggigil kudapat
Kau mungkin akan hilang, lalu muncul menjadi entah siapa dalam waktu yang tepat
Mungkin memang perjalanan singkat
Tapi semua ini sudah begitu melekat
Kita memang bukan kiri dan kanan
Semoga aku dapat terus maju meski perlahan
Bersama udara, mimpi, serta aksara pembaharuan

Senin, 04 April 2011

Aku punya rasa, untukmu

Malam ini sangat larut hingga air habis dan mengering bersama masa
Beberapa waktu yang lalu kau melintas dalam benak murka
Aku marah, tapi tak pantas, aku seperti tak dihargai, tapi aku siapa memang? Manusia
Surat itu terbang ke angkasa, melalui gelombang magnetik teknologi bahasa
Mungkin sempat kau baca namun tak kau balas isinya, angin lalu pikirmu dalam kata
Aku terlelap, dalam buaian angin meniup tenggorokanku yang terbakar lada
Panas terik ini pun sangat kuat menyengat dada
Dahaga rasanya, tapi tak seberapa
Kau melintas lagi di otak, melihatku menunggu namun tak hendak berpapasan dan bertutur kata
Kau itu, aku tahu kau begitu adanya
Untuk itu aku ingin terbiasa, sangat ingin untuk bisa
Tak ayal lagi memang sudah terpapar setiap usaha
Bukan aku, kamu, atau parasmu, tapi perasaan ini yang akan binasa
Jika semua yang terpikir olehku tak terlaksana
Aku ingin menjaganya denganmu bersama-sama
Ego memang, tapi harus bagaimana?
Meski harus bertumpah darah menyeruak luka
Itu tak seberapa, aku pernah tersungkur hampir mati tertikam belati rasa
Aku terbangun lalu berdiri sejenak dan siaga
Sepucuk surat pendek terkirim melalui teknologi bahasa
Sekali lagi kau buat ku tersenyum dalam aksara
Hingar bingar tawa tak terdengar saat ku membacanya
Aku terbakar api tadi, namun aku tidak hangus sekarang atau lusa
Aku tak kuasa untuk diam lalu gila
Karena cinta
Mungkin lumrah jika tak punya nyali, tapi aku laki-laki dewasa
Aku punya asa
Dan itu kamu, yang sekarang terlelap diperaduan bersama dengan rasa
Yang entah ada atau tidak, tapi aku mengharapkannya
Kau adalah asa ku, yang terdiam lalu berlari di pikiran seorang aku, yang punya rasa