aku si tak bernama, tak terdefinisi dalam aksara
dibawah kerudung jiwa, aku mati ditampar cahaya
terlalu benderang, terlalu meradang di dalam sarang
tidak seperti udara, tak terlihat, namun diketahui di senyawa
bertiup bebas di langit luas, lalu kandas
desir demi desir bersemayam di dalam lubuk
lubuk yang terbaca manis dalam tangis roh kebebasan
narasiku mengalun di tiap tarian pena hitam
dengan tinta tersurat di hati tersirat
embun mengendap di setiap jengkal bebatuan
dingin, tak berirama, diam, bernada
remuk redam kelambu malam
aku si sayap hitam yang selalu terbang
dengan sisa nafas sang penyair
yang melukis garis kehidupan tanpa akhir
berputar di setiap lingkaran pudar, tak bernalar dan kasar
aaaaaa!!!
hanya nafas terhembus, dimana suara?
hilang tertelan atau habis terbuang, atau sengaja dibuang?
aaaaa!!!
terlihat dalam alunan pena, mungkin tersurat dan telat.
kesadaran terikat, aksara gambarkanku, definisiku
narasiku, nafas, dan matiku
ini tidak benar, aku nanar, lebam dan memar
namun tetap tampan, karena aksara dalam tatanan
aku terkuak, aku meledak, aku ... mati
dan dihidupkan dalam aksara
dalam otak, ditranslasikan pena dan tuak, juga kertas perak akhirnya telak
jadi, aku ingin kau membacaku
dalam aksara hingga jutaan ribu
Aksara puluhan ribu,
itu AKU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar