Senin, 18 April 2011

aku si tak bernama, tak terdefinisi dalam aksara

dibawah kerudung jiwa, aku mati ditampar cahaya

terlalu benderang, terlalu meradang di dalam sarang

tidak seperti udara, tak terlihat, namun diketahui di senyawa

bertiup bebas di langit luas, lalu kandas

desir demi desir bersemayam di dalam lubuk

lubuk yang terbaca manis dalam tangis roh kebebasan

narasiku mengalun di tiap tarian pena hitam

dengan tinta tersurat di hati tersirat

embun mengendap di setiap jengkal bebatuan

dingin, tak berirama, diam, bernada

remuk redam kelambu malam

aku si sayap hitam yang selalu terbang

dengan sisa nafas sang penyair

yang melukis garis kehidupan tanpa akhir

berputar di setiap lingkaran pudar, tak bernalar dan kasar

aaaaaa!!!

hanya nafas terhembus, dimana suara?

hilang tertelan atau habis terbuang, atau sengaja dibuang?

aaaaa!!!

terlihat dalam alunan pena, mungkin tersurat dan telat.

kesadaran terikat, aksara gambarkanku, definisiku

narasiku, nafas, dan matiku

ini tidak benar, aku nanar, lebam dan memar

namun tetap tampan, karena aksara dalam tatanan

aku terkuak, aku meledak, aku ... mati

dan dihidupkan dalam aksara

dalam otak, ditranslasikan pena dan tuak, juga kertas perak akhirnya telak

jadi, aku ingin kau membacaku

dalam aksara hingga jutaan ribu

Aksara puluhan ribu,

itu AKU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar