Senin, 04 April 2011

Aku punya rasa, untukmu

Malam ini sangat larut hingga air habis dan mengering bersama masa
Beberapa waktu yang lalu kau melintas dalam benak murka
Aku marah, tapi tak pantas, aku seperti tak dihargai, tapi aku siapa memang? Manusia
Surat itu terbang ke angkasa, melalui gelombang magnetik teknologi bahasa
Mungkin sempat kau baca namun tak kau balas isinya, angin lalu pikirmu dalam kata
Aku terlelap, dalam buaian angin meniup tenggorokanku yang terbakar lada
Panas terik ini pun sangat kuat menyengat dada
Dahaga rasanya, tapi tak seberapa
Kau melintas lagi di otak, melihatku menunggu namun tak hendak berpapasan dan bertutur kata
Kau itu, aku tahu kau begitu adanya
Untuk itu aku ingin terbiasa, sangat ingin untuk bisa
Tak ayal lagi memang sudah terpapar setiap usaha
Bukan aku, kamu, atau parasmu, tapi perasaan ini yang akan binasa
Jika semua yang terpikir olehku tak terlaksana
Aku ingin menjaganya denganmu bersama-sama
Ego memang, tapi harus bagaimana?
Meski harus bertumpah darah menyeruak luka
Itu tak seberapa, aku pernah tersungkur hampir mati tertikam belati rasa
Aku terbangun lalu berdiri sejenak dan siaga
Sepucuk surat pendek terkirim melalui teknologi bahasa
Sekali lagi kau buat ku tersenyum dalam aksara
Hingar bingar tawa tak terdengar saat ku membacanya
Aku terbakar api tadi, namun aku tidak hangus sekarang atau lusa
Aku tak kuasa untuk diam lalu gila
Karena cinta
Mungkin lumrah jika tak punya nyali, tapi aku laki-laki dewasa
Aku punya asa
Dan itu kamu, yang sekarang terlelap diperaduan bersama dengan rasa
Yang entah ada atau tidak, tapi aku mengharapkannya
Kau adalah asa ku, yang terdiam lalu berlari di pikiran seorang aku, yang punya rasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar