Berhenti berterbangan, kau membutuhkan sarang
Untuk berdiam dan berteduh, dari jiwa jiwa yang runtuh menimpa jiwa keemasan
Juga induk untuk anak-anakmu, yang nanti terlahir dan berterbangan pula, sama sepertimu
Untuk memadu kasih dan sayang serta hasrat berkesinambungan antara setiap mimpi dan angan-angan
Kau telah lelah, istirahatlah dan merebah, bukan hanya sekedar singgah
langit malam begitu diam senyap, dan udara dingin serta embun menyekat
Kebebasan bintang dan emosi berlaluan
kau bukan komet, yang bersinar dan setiap waktu berputar
Berpendar di setiap garis-garis makna dan aksara
Kau masih terbelenggu khayalmu, semu, dan biru kelabu
Berlarilah, tapi nanti saat kau punya sebuah sisi
Yang siap menunggu dan mengayomi, mungkin melampiaskan duniawi, entah cinta atau narasi
Kau masih berdegup, keras dalam ucap tergugup
Mati dalam pikiran absurdmu kusut
Melangkahlah, tapi perlahan, agar tak mati berakar, dan terbakar
Kau bukan aljabar, perhitungan pasti yang masuk di nalar
Kau bukan kemistri, yang tidak percaya mati suri
Saat mau berdiri dan kemudian jatuh lagi
Masih belum pagi, tidurlah dulu, dan bergelut dengan mimpi
Untuk mengobati setiap isi kelambu inspirasi
Istirahatlah, rebahkan tubuh, tapi jangan tangisi
Dia yang tak punya mimpi tentang kami lagi
Istirahatlah, dalam buta pagi yang runtuh dimakan bumi
Istirahatlah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar