Tuhan, aku ingin ikhlas
Mengucap selamat tinggal kepada yang harus terbang jauh
Menggapai mimpi hingga ke seribu tanpa harus susah payah mengangkat sauh
Mengucap selamat datang kepada yang akan hadir
Menghiasi lembar-lembar perjanjian kita yang kusebut takdir
Tuhan, aku butuh ikhlas
Melepas rantai-rantai hati dia yang terperosok candu
Berharap penuh kepada cinta dan juga rindu, tersedu
Mendoakannya untuk kebahagian langit yang tenang
Bertahtakan awan dan ribuan gemintang
Tuhan, sungguh aku ingin ikhlas
Menerima sepenuh hati tanpa tangan terkepal
Tulus bertengadah untuk pemberianmu yang jumlahnya pun tak kan bisa kuhapal
Menggenggam erat yang telah ada tanpa harus takut untuk hilang
Tentu nanti Kau akan buatnya pulang bukan?
Tuhan, aku benar-benar ingin ikhlas
Menatap senyuman itu tanpa harus berpikir tentang kepalsuan
Tentang jeratan-jeratan licik lidah perempuan
Memandang tajam pada sinar mata itu tanpa harus takut hilang arah
Kau pasti akan tunjukkan kepadaku kalau itu salah bukan?
Jangan buat dia berubah, apa adanya saja seperti yang telah kau ciptakan
Yang kemudian dibentuk alam sekitarnya hingga ada disisiku saat ini
Buat aku ikhlas Tuhan
Tertawa, menangis, memeluk, mencumbu, dan merindu
Tanpa harus ada keinginan ini-itu
Tuhan, izinkan aku mencintainya
Karena Mu, dan perjanjian kita
Dengan ikhlas
Aksara Teruntai
saat kata berpagut dan terbaca beriringan
Minggu, 29 Juli 2012
Senin, 31 Oktober 2011
Selimut Lampau
Sekedar penat tak lekang karena pekat
Sembilu angin perlahan menyayat
Getir tertelan hampir masuk liang lahat
Pesonamu buat ku mabuk, entah rum atau apa, aku melayang
Membumbung tinggi jauh lewati kabut
Aku takut, takut menyelimut, hingga aku nanar tak bisa bernafas jernih
Pandangan kabur entah kemana berlari
Bukan bidadari juga bukan permaisuri, bukan pula tuan putri
Hanya manusia dibawah sinar mentari, hampiri ku yang sedang bermain malam
Bawakan lilin bercahaya keemasan, aku masih belum dewasa
Ego ku terlalu luar biasa, salah-salah aku binasa
Maafkan aku dengan sejuta nada, ribuan aksara, namun satu cinta
Aku masih ingin belajar mencintaimu dengan sederhana, juga jutaan mimpi yang akan kita buat menjadi nyata
Sabtu, 25 Juni 2011
Kita untuk mereka
Perilaku insan, kebijaksanaan terperangah
Menghadapi ego-ego muda yang terbakar dendam dan amarah
Aku hampir lengah dan berjalan hilang arah
Entah sampai kapan tangan ini hanya menengadah, tanpa ada tindak tegas hadapi sumpek nan gerah
Geram jiwa mengaum hingga ke ufuk
Teriak dan kepalan menderu-debu
Aku berdiri dengan kaki satu, mana yang satu lagi? Bersembunyi karena takut mati
Jangan! Kau harus tau dua itu lebih baik dari satu
Kanan kiri laki perempuan tua muda ego bijaksana
Kalian bersorak aku yang berserak
Satukan bijak lalu menapak
Kita lawan musuh bersama
Bukan berasaskan dendam namun untuk kemakmuran
Yang diwakili botol-botol dan asap yang tebal berterbangan
Hapus cacimu buang setanmu
Biarkan dia terbang berputar panasi setiap piston pemikiranmu
namun kemudi harus tetap di hati
Kalian ada untuk semua, bukan hanya untukku atau diri kalian sendiri
Kita bersama, tertawa, tertindas, dibawah purnama
Suarakan kami dan mereka
Bukan aku dan dia
Menghadapi ego-ego muda yang terbakar dendam dan amarah
Aku hampir lengah dan berjalan hilang arah
Entah sampai kapan tangan ini hanya menengadah, tanpa ada tindak tegas hadapi sumpek nan gerah
Geram jiwa mengaum hingga ke ufuk
Teriak dan kepalan menderu-debu
Aku berdiri dengan kaki satu, mana yang satu lagi? Bersembunyi karena takut mati
Jangan! Kau harus tau dua itu lebih baik dari satu
Kanan kiri laki perempuan tua muda ego bijaksana
Kalian bersorak aku yang berserak
Satukan bijak lalu menapak
Kita lawan musuh bersama
Bukan berasaskan dendam namun untuk kemakmuran
Yang diwakili botol-botol dan asap yang tebal berterbangan
Hapus cacimu buang setanmu
Biarkan dia terbang berputar panasi setiap piston pemikiranmu
namun kemudi harus tetap di hati
Kalian ada untuk semua, bukan hanya untukku atau diri kalian sendiri
Kita bersama, tertawa, tertindas, dibawah purnama
Suarakan kami dan mereka
Bukan aku dan dia
Selasa, 17 Mei 2011
Melambai dalam penat, getir ku terasa pekat
Ini emosi, atau halusinasi? Atau mungkin hanya imaji dari sekumpulan prediksi?
Untuk semua perjalanan yang makin lama makin jauh di titik, tertuju satu dalam sendu
Prasangka demi prasangka kalbu, membaur di setiap rerumputan kering dan ranting yang berjatuhan tertiup angin syahdu
Tapak demi tapak terjejak, debu demi debu terhisap, terbatuk dan tersandung buatku serak
Sekelebat cahaya silaukan pandangan, apa itu harapan?
Aku tak boleh berhenti, tapi tak boleh berlari
Jalan saja, lalu percepat, berhenti sebentar untuk istirahat
Aku kuat
Aku hebat
Aku belum mau mati berkarat
Ini emosi, atau halusinasi? Atau mungkin hanya imaji dari sekumpulan prediksi?
Untuk semua perjalanan yang makin lama makin jauh di titik, tertuju satu dalam sendu
Prasangka demi prasangka kalbu, membaur di setiap rerumputan kering dan ranting yang berjatuhan tertiup angin syahdu
Tapak demi tapak terjejak, debu demi debu terhisap, terbatuk dan tersandung buatku serak
Sekelebat cahaya silaukan pandangan, apa itu harapan?
Aku tak boleh berhenti, tapi tak boleh berlari
Jalan saja, lalu percepat, berhenti sebentar untuk istirahat
Aku kuat
Aku hebat
Aku belum mau mati berkarat
Kamis, 21 April 2011
Terhanyut ombak keresahan, aku terombang-ambing alasan
Berlayar hanya dengan sampan, tak ada layar terkembang
Ikan-ikan berenang perlahan, menatap sebentar lalu pergi, harapan palsu
Bulan begitu benderang, tapi kenapa badai ini terus meradang?
Haruskah aku hanya berenang? Agar terhanyut ke sebuah tepian tanpa paksaan
Hanya air mengalir deras membawaku tanpa satupun kecemasan
Hanya mimpi-mimpi khayalan kuning keemasan
Kabut pun turun memeluk udara gelap
Dingin dan senyap, aku terlelap
Lalu bersandar entah dimana
Aku harus berlayar lagi, entah untuk apa
Mungkin untuknya
Berlayar hanya dengan sampan, tak ada layar terkembang
Ikan-ikan berenang perlahan, menatap sebentar lalu pergi, harapan palsu
Bulan begitu benderang, tapi kenapa badai ini terus meradang?
Haruskah aku hanya berenang? Agar terhanyut ke sebuah tepian tanpa paksaan
Hanya air mengalir deras membawaku tanpa satupun kecemasan
Hanya mimpi-mimpi khayalan kuning keemasan
Kabut pun turun memeluk udara gelap
Dingin dan senyap, aku terlelap
Lalu bersandar entah dimana
Aku harus berlayar lagi, entah untuk apa
Mungkin untuknya
Berhenti berterbangan, kau membutuhkan sarang
Untuk berdiam dan berteduh, dari jiwa jiwa yang runtuh menimpa jiwa keemasan
Juga induk untuk anak-anakmu, yang nanti terlahir dan berterbangan pula, sama sepertimu
Untuk memadu kasih dan sayang serta hasrat berkesinambungan antara setiap mimpi dan angan-angan
Kau telah lelah, istirahatlah dan merebah, bukan hanya sekedar singgah
langit malam begitu diam senyap, dan udara dingin serta embun menyekat
Kebebasan bintang dan emosi berlaluan
kau bukan komet, yang bersinar dan setiap waktu berputar
Berpendar di setiap garis-garis makna dan aksara
Kau masih terbelenggu khayalmu, semu, dan biru kelabu
Berlarilah, tapi nanti saat kau punya sebuah sisi
Yang siap menunggu dan mengayomi, mungkin melampiaskan duniawi, entah cinta atau narasi
Kau masih berdegup, keras dalam ucap tergugup
Mati dalam pikiran absurdmu kusut
Melangkahlah, tapi perlahan, agar tak mati berakar, dan terbakar
Kau bukan aljabar, perhitungan pasti yang masuk di nalar
Kau bukan kemistri, yang tidak percaya mati suri
Saat mau berdiri dan kemudian jatuh lagi
Masih belum pagi, tidurlah dulu, dan bergelut dengan mimpi
Untuk mengobati setiap isi kelambu inspirasi
Istirahatlah, rebahkan tubuh, tapi jangan tangisi
Dia yang tak punya mimpi tentang kami lagi
Istirahatlah, dalam buta pagi yang runtuh dimakan bumi
Istirahatlah
Untuk berdiam dan berteduh, dari jiwa jiwa yang runtuh menimpa jiwa keemasan
Juga induk untuk anak-anakmu, yang nanti terlahir dan berterbangan pula, sama sepertimu
Untuk memadu kasih dan sayang serta hasrat berkesinambungan antara setiap mimpi dan angan-angan
Kau telah lelah, istirahatlah dan merebah, bukan hanya sekedar singgah
langit malam begitu diam senyap, dan udara dingin serta embun menyekat
Kebebasan bintang dan emosi berlaluan
kau bukan komet, yang bersinar dan setiap waktu berputar
Berpendar di setiap garis-garis makna dan aksara
Kau masih terbelenggu khayalmu, semu, dan biru kelabu
Berlarilah, tapi nanti saat kau punya sebuah sisi
Yang siap menunggu dan mengayomi, mungkin melampiaskan duniawi, entah cinta atau narasi
Kau masih berdegup, keras dalam ucap tergugup
Mati dalam pikiran absurdmu kusut
Melangkahlah, tapi perlahan, agar tak mati berakar, dan terbakar
Kau bukan aljabar, perhitungan pasti yang masuk di nalar
Kau bukan kemistri, yang tidak percaya mati suri
Saat mau berdiri dan kemudian jatuh lagi
Masih belum pagi, tidurlah dulu, dan bergelut dengan mimpi
Untuk mengobati setiap isi kelambu inspirasi
Istirahatlah, rebahkan tubuh, tapi jangan tangisi
Dia yang tak punya mimpi tentang kami lagi
Istirahatlah, dalam buta pagi yang runtuh dimakan bumi
Istirahatlah
Senin, 18 April 2011
Bukan maksud ingin merusak, hanya membuat luka terkuat
Bukan untuk dirimu, tapi semua buatku
Mungkin pilu, tapi kesukaanku, dalam kalbu
Pembiusan dalam jejak kebencian dan kerinduan, tentang materi alam sepadan
Definisi langkah terpendam yang teredam, lalu mati ditangan hitam
Aku abu-abu, rancu, dan perlahan kaku, lalu malu
Tidak mati, tapi melukai, dan membekas di guratan sayap fiksi, dalam kenyataan duniawi
Khayal terbentang dalam alunan rima, bersenandung diantara kabut duka dan api membara
Aku menggebu dan berlari memburu
Tiap jengkal hasrat yang patut diadu
Hey! Berbicaralah, jangan berbisik, teriaklah, jangan bungkam
Kau berani, tapi sekarang takut
Takut hilang dari garis edar orbit bahagia
Ya sudah aku duduk saja, menikmati alunan irama, dari setiap kata yang tersusun di mata
Aku bukan si penjaga, aku si pengharap dan terluka
Bukan untuk dirimu, tapi semua buatku
Mungkin pilu, tapi kesukaanku, dalam kalbu
Pembiusan dalam jejak kebencian dan kerinduan, tentang materi alam sepadan
Definisi langkah terpendam yang teredam, lalu mati ditangan hitam
Aku abu-abu, rancu, dan perlahan kaku, lalu malu
Tidak mati, tapi melukai, dan membekas di guratan sayap fiksi, dalam kenyataan duniawi
Khayal terbentang dalam alunan rima, bersenandung diantara kabut duka dan api membara
Aku menggebu dan berlari memburu
Tiap jengkal hasrat yang patut diadu
Hey! Berbicaralah, jangan berbisik, teriaklah, jangan bungkam
Kau berani, tapi sekarang takut
Takut hilang dari garis edar orbit bahagia
Ya sudah aku duduk saja, menikmati alunan irama, dari setiap kata yang tersusun di mata
Aku bukan si penjaga, aku si pengharap dan terluka
Langganan:
Postingan (Atom)