Minggu, 27 Maret 2011

kau tak ku kenal, namun ku hapal

Aliran deras ini terbentang jauh ke ujung pandangan
Tak terlihat tepiannya sejauh mata memandang
Sampai-sampai pertemuannya dengan langit pun menjadi pembatas
Meresapi angin disetiap rambutku
Debur ombak yang berseru
Aku termangu, dalam lamunan bisu
Seperti saat aku membayangkan dirimu
Seseorang yang memang benar-benar aku belum tahu
Nama, rumahmu, serta dirimu
Hanya senyum itu yang aku kenal
Menyeringai seperti bulan sabit
Sering membayangkan seperti apa gerangan kau, terlebih saat nanti kita bertemu
Mungkin...
Itu pun jika ada kehendak Tuhan
Sementara itu, angin meniup debu-debu pasir yang putih kecoklatan
Menggoyangkan daun-daun kelapa yang tinggi terjuntai
Asap ini tebal sekali
Memaksa paru-paru menerima nikotin lebih dalam
Biarkan sajalah, nanti juga hilang sifatnya
Merusak memang, tapi apa daya, terlalu manis untuk ditinggalkan
Lamunan itu kembali hadir, dibawah terang bintang yang bertebaran
Entah awan pergi kemana, sehingga dengan asik mereka menari dengan bebasnya
Malam ini terlalu indah, untuk dilewatkan sendiri
Tapi apa daya hati ini sedang tak berseri
Menyambut luka yang tak terperi
Aku berdiri, pandangi deburan air yang bergulung di kejauhan
Lamunan ini bukan sesaat, aku tahu jika terus-terusan aku bisa mati cepat
Gila lalu tertabrak bus malam yang lewat
Aku biar kan sajalah
Saat ini hanya itu yang bisa kulakukan
Agar tak lupa denganmu
Orang yang berbicara sesaat dan memberi satu senyuman
Lalu pergi dan membiarkan hati ini berjauhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar